dan nikmati setiap prosesnya.

Friday, March 22, 2013

[ Catatan Perjalanan Semeru, Menuju Puncak Abadi Para Dewa - Part. 2 ]

24-27 Agustus 2012, Summit Note



   Mendaki melintas bukit

   Berjalan letih menahan menahan berat beban

   Bertahan didalam dingin
   Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`
   Menatap jalan setapak
   Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
   Mereguk nikmat coklat susu 
   Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
   Bersama sahabat mencari damai
   Mengasah pribadi mengukir cinta
   Mahameru berikan damainya
   Didalam beku `Arcapada`
   Mahameru sebuah legenda tersisa`Puncak Abadi Para Dewa`.....


~Mahameru - Song of Dewa19 (1994)~










6 in 1
       Peron Stasiun Madiun senyap sunyi. Bapak yang tadi mengantarku juga sudah beranjak pergi. Tepat pukul dua pagi. Sepuluh menit berselang gemuruh roda besi di atas dua baris batang baja membentang panjang pun datang. KA Matarmaja. Bersiap menuju Kota Malang.

       Dari pertama sampai di stasiun ane selalu sms'an sama Ketek yang di Jakarta, berangkat dari Stasiun Pasar Senen dan Espe di Solo yang berangkat dari Stasiun Solojebres.  Kita bakalan naik kereta yang sama. Begitu naik ke KA Matarmaja ane jalan sepanjang gerbong dengan carrier segaban nyari tuh anak-anak. Tapi sepajang gerbong itu pula kagak nemuin. Begitu tanya ama petugas stasiun ternyata ada dua KA Matarmaja. Yang ane naikin ini KA Matarmaja Lebaran dan satunya lagi KA Matarmaja Ekonomi, satu jam di belakangnya. Yah, anak-anak naik yang belakang kayaknya. Yaudah, cari no kursi yang di ticket. Langsung banting carrier, banting badan dan tidur. Perjalanan ke Malang di musim lebaran kaya gini pasti bakal molor. Tulisan di ticketnya sih jam  07.45. Lumayan. Ditambah molornya pasti cukup buat istirahatin penat.

       Tepat pukul 10.00. Hari itu Jum'at, 24 Agustus 2012, KA Matarmaja Lebaran yang ane naiki sampai di Stasiun Kota Baru Malang. Hmmm....hawa dingin udah mulai kerasa. Ditambah lagi peron stasiun yang masih sepi karena arus balik belum menaik. Telihat beberapa kelompok orang dengan carrier besar di sebarang. "Hawa Semeru" udah kecium deras di stasiun ini. Udah pasti mereka bakal ke Semeru. Apalagi musim liburan kaya gini. Ane contact yang di belakang. Masih kalem di Kediri. Yah, jauh. Buka nasi bungkusan dari Ibu dan sarapan. Nasi bungkus sambel pecel. Selepas sarapan sambil nungguin 5 orang yang masih di Kediri itu, ane ke loket untuk cari info ticket Malang-Jakarta tanggal 28/08. Sepinya di peron, riuhnya di loket. Antrinya ga nanggung. Beberapa gerombol orang ada di ruang reservasi. Ane pun ikut bergabung. Mencoba cari tiket terbaik dan tercepat untuk 5 orang tersebut. Kelima-limanya belum punya tiket balik ke Jakarta. Dan ternyata tiket ekonomi tercepat hanya ada di tanggal 07/09. Kalo mau maksain beli yang eksekutif. Itupun tanggal 31/08 dengan harga selangit, setengah juta lebih dikit. Kalo sih ane udah woles. baliknya cuma ke Madiun. Tiket juga udah di tangan. Mereka?

       Masih di ruang reservasi, ada sesosok pria berbaju safari hitam lengan pajang khas PDH (Pakaian Dinas Harian) Mapala. Ga begitu tinggi, tapi badannya lebih gede dari ane. Ga asing. Rambutnya ikal. Sepertinya pernah berjumpa. Entah dimana. Ane pun cuma menanyakan hal yang biasa. 

     "Mau cari tiket kemana mas?"
     "Tangerang"

Hmmmm.....sama aja, pasti kaya ane. Ga ada. Ckckc. Beruntunglah bagi ane pagi itu. Setelah gagal dapetin tiket, ane keluar ke lobby loket. Bertemu dengan Mas Joko, asli Malang. Mahasiswa Polman satu Prodi dengan ane. Dua tingkat di atas. Dia juga salah satu 'perintis' berdirinya Mapatra, angkatan pertama. Obrolan hangat pun mengisi pagi yang riuh di teras loket Stasiun Matarmaja. Dengan carrier ane yang segaban dia udah nebak.

     "Mau ke Semeru ya?"
     "Iya mas, ntar ada Espe, Zaky ama Evan juga"
     "Mau berapa orang?
     "6"
     "Udah lama banget ga kesana"

Pagi itu ia juga sedang cari tiket ke Jakarta buat adeknya. Dan sama halnya dengan ane juga pria bersafari hitam tadi. Gagal. Lebih gagal lagi karena beberapa temannya yang jadi calo di stasiun ga bsa kasih bantuan. Lumayan sebenarnya. Dapet tiket bajakan dengan harga yang ga terlalu melonjak tinggi. Tapi yang  juga namanya lebaran. Lebih banyak yang ga dapet tiket daripada yang dapet. Kita bertiga adalah salah satunya. Serta 5 orang yang masih mengukur jalan Kediri-Malang.

       Mungkin benar kata sebagian orang. "Pendaki gunung selalu menjadi daya tarik bagi orang lain". Termasuk juga angkot-angkot di sekitar stasiun. Salah satunya nyamperin ane tawarin jasa nganter langsung sampai Tumpang, Malang. Ckckc. Sudah bukan daya tarik, tapi 'daya jual'. Hahaa. Mas Joko juga sepertinya sudah bosan berlama-lama di stasiun. Rencana buat nungguin mereka berlima ia urungkan. Sudah hampir jam 11, mendekati waktu Sholat Jum'at. Dia pun pamitan dan titip salam untuk mereka berlima. 15 menit berselang, tepat pukul 11.00. Mereka berlima akhirnya sampai di Kota Baru Malang. Dengan carrier besar tinggi berjalan beriringan menuju teras loket. 

     "Wuih....udah dari tadi?"
     "Sejam yang lalu"
     "Gimana tiket? dapet?"
     "Habis, adanya sampai Solo aja. Yang sampai Semarang juga uda habis"
     "Oh ya, tadi ketemu Mas Joko. Nitip salam buat loe semua"
     "Mas Joko?"
     "Mas Joko TO, yang asli Malang"
     "Lah, mana orangnnya?"
     "Udah jalan 15 menit yang lalu"


       Lengkap sudah Tim Ekspedeisi Mapatra - Trip to Semeru 2012. Enam orang termasuk ane. Yang berangkat dari Jakarta ada Kibo (Evan), leader. Terus Zaky (Arif), Cokle (Aryanto) si ketum 2012 dan Ketek (Ipin). Yang dari Solonya si Espe (Aditya), ketum 2011 da nterakhir ane, Batu (Fredy). Kita berenam yang waktu itu masih pada gembel-gembelnya, alias mahasiswa yang duitnya selalu tipis bakal mencoba menjejakkan kaki di Puncak Tertinggi di Pulau Jawa. Membawa nama Mapatra. Yah, pertama kalinya untuk Mapatra. We're for One. 6 in 1.

       Langkah awal adalah memastikan kepulangan tim ini. Setelah perdebatan panjang Espe dan Evan diputuskan untuk mempersingkat waktu trip dari awalnya 24-28/08 menjadi 24-27/08. Sehari lebih cepat. Karena sepulang dari Malang akan naik kereta Malang-Solo. Stay di rumah Espe, dan esok taggal 28/08 nya nge-bis Solo-Jakarta. Efek dari mempersingkat waktu trip berarti bakalan ngetrek cepet. Harus lari-lari kejar kereta. Tapi puncak tetep tujuan utamanya. Perjalanan awal dimulai jam 1 siang nanti, sehabis Sholat Jum'at. Berdasarkan rencana dalam ROP, dari Stasiun Kotabaru meuju Terminal Arjosari terlebih dulu. Kemudian naik angkot putih menuju Tumpang, Malang. Dilajut naik Jeep/Truck sampai ke Ranu Pane. Pos awal pendakian. Ah, yang penting sholat dulu.



Membuka Persahabatan, di Barisan Pegunungan

       Selalu, di setiap perjalanan kita akan melihat, bertemu atau berkenalan dengan orang-rang baru. Begitu pula dengan perjalanan pendakian gunung, berkenalan dan sok akbrab adalah gaya pembukaan mereka. Dan tak jarang pertemuan singkat akan mengarahkan mereka untuk berjalan bersama dalam pendakian tersebut. Hlawong tujuannya sama. Puncak. Menjadi satu rombongan. Itulah sisi positif pendakian. Jika sudah berada di alam bebas. Tidak ada lagi perbedaan. Semua sama. Visinya pun sama. Mungkin yang membedakan adalah badge di lengan kanan mereka. Selebihnya yaaa...sama. 

      Begitulah kami berenam. Memang sengaja cari teman pendaki lain untuk bareng sewa angkot. Biar lebih murah. Dan itu pun juga ga sulit. Selepas sholat jum'at ane berjalan kembali menuju stasiun. Berbincang dengan tiga orang yang berpenampilan hitam-hitam layaknya pendaki. Eh, iya....mau naik juga. Perkenalan singkat itu membuka perjalanan ke Semeru kala itu. Membuka jaringan. (^_^). Masih ada 4 lagi di tim mereka menunggu di stasiun juga. Singkat waktu akhirnya kita berangkat dan berjalan bersama. Jadilah 14 orang dalam satu tim. Masih teringat nama-nama mereka. Mbak Ipung, Mbak Hartati, Mas Arif, Mas Nanda, Mas Prabu, Mas Satria, dan satu lagi Si Kecil, anak Mbak Ipung, 7 tahun, lupa namanya ane. Naik angkot pun jadi ringan karena rame-rame. Lebih ringkas pula karena waktu itu angkotnya langsung nganterin ke Tumpang, Malang. Ga perlu ke Arjosari. Jadi lebih efisien waktu. 

       Jam 1 siang lewat dikit kita ber-13 beranjak. Menuju Tumpang. Naek angkot biru dengan tarif 150.000 dibagi 12 orang (Si Kecil ga dihitung). Lebih mmahal dikit, tapi lebih cepat. Hanya sejam setengeh udah nyampe Tumpang. Kalau pendaki biasa akan berhenti di Pasar Tumpang dan akan cari Jeep atau Truck Sayur. Kapasitas Jeep maksimal 15 orang, kalau truk sayur sampai 20 orang tapi jarang ada. Tarif sekali jalan adalah 450.000. Jadi dibagi ama jumlah penumpang. Tinggal hitung. Namun, kami tidak berhenti di situ. Langsung ke tempat teman Mbak Ipung, di daerah tumpang juga. Temannya punya beberapa Jeep yang disewakan untuk para pendaki. Di situlah kami turun dan istirahat. Pukul 02.30 siang. Sambil mencari beberapa logistik dan mencari surat keterangan sehat dari dokter. Kalau mau naik ke Semeru harus pakai Surat Sehat saat registrasi. Kalo bikinnya di Puskesmas Tumpang harganya 5.000. Tapi, lebih enak jika disiapin dari awal, jadi ga ribet kaya kami kemaren. Musti cari dulu. Ane, Ketek, Zaky, Evan, Mas Nanda, Mas Prabu, sama Si Kecil. 

       Here...we are....


       Semua logistik siap dan perlengkapan oke. Jam 04.30 sore kita menuju Ranu Pane. Tetap ber-13 belas. Tarif jeepnya 450.000, dibagi 12. Per orangnya 37.500. Saya rasa harga yang pantas untuk perjalanan Tumpang-Ranu Pane. 2 jam perjalanan yang luar biasa. Melewati jalanan perkampungan yang masih beraspal kasar. Kian lama kian naik. Terus berjalan ke arah timur, melawati desa Gubuk Klalah, desa terakhir di Kabupaten Malang sebelah Timur. Terus menyisir jalan yang semakin mengecil, menanjak, menembus perhutanan sampai pada daerah tinggi dan terbuka. Menuju Kabupaten Lumajang. Pemandangan terbuka. Alam yang luas disajikan di pemukiman masyarakat Tengger. Perbatasan Malang-Lumajang. Di ketinggian rata-rata 2000 mdpl. Jalannya sudah tak beraspal. Selebar jeep yang kami tumpangi. Tubuh kami digoncang sana-sini. Begitu pula mata kami, digoncang indahnya alam di sana. Perbukitan-perbukitan tinggi dengan berbagai tanaman sayuran. Menjulang pula tiang-tiang listrik sebagai pakunya. Di sebelah barat semakin digoncang oleh barisan pegunungan Arjuno-Welirang yang memerah langitnya. Di sisi utara dinding Pegunungan Bromo yang berparit-parit, dirayapi 2 jeep. Di sisi selatan, itulah Mahameru. Puncak tertinggi di Pegunungan Semeru. Seharian tertutup awan, senja Tuhan menghapuskannya untuk dipandang tanahnya dan dirasakan goncangan erupsinya.

Subhanallah. 




       Tawa, ria, riuh, canda terlontar ga ada habisnya. Kagum, nikmat, indah selalu jadi pelengkapnya. Bener-bener perjalanan yang harus ane bilang "woow". Untuk nikmat Tuhan ini, untuk mereka-mereka..Para sahabat baru petualangan kita. Senja semakin sirna. Puncak Mahameru kian nampak megah. Semakin sampai Ranu Pane. Kian dekat dengan Puncak Mahameru.

       Para dewa, tunggu kami, di puncakmu....
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top