dan nikmati setiap prosesnya.

Tuesday, March 12, 2013

[ Riak-Riak Rasa, Sebuah Ironi ]

17 February 2013, Diary Note

Terima kasih ukhti buat pinjaman bukunya

Sepotong kalimat di bukunya menginspirasi tulisan ini, Riak-riak Rasa ...



Kala Pagi itu Ironi Menusukku

       Minggu pagi,
       Hari kedua ane di kampung tercinta, 'Truneng Calm City'. Kalau SID (Superman is Dead) dalam lagunya bilang Pantai Kuta dengan 'Kuta Rock City', maka dalam tulisan di blog ane ini dengan bangga ane bilang 'Truneng Calm City'. Alias 'Kampung Woles'(woles=selow), begitu tenang , adem ayem. Jalan-jalannya pun udah pada 'woles'. Jalan gedenya 'woles' banget. Kalo orang kampung ane bilang 'aspal goreng'. Ckckckck. Yaah udah selevel sama jalan tol di Jakarta lah. Padahal kampung ane masih banyak banget sawah. Kereen. Kalo jalan agak masuk ke dalem-dalem namanya 'aspal godhok' (godhok=rebus). Ckkckckckck. Malah makin ngawur aja orang-orang kampung itu. Tapi woles-woles aja, Calm. Agak sedikit kasar dari pada yang pertama tadi. Tapi masih layak, pake banget layaknya. Kagak ada lobang gede pun. Nah, yag terakhir namanya agak udik. 'Makadam'. Yaaak, 'jalan makadam'. Jalan yang paling masuk-masuk ke dalam. Batu-batu gede di bagian bawah yang ditutupi kerikil-kerikil dicampur tanah dan lumpur secukupnya. Jadilah jalan super selow di kampung ane. Bagaimana tidak?? Kalau hujan paling becek, kaki pun jadi tersoek-soek. Kalau terik paling bergejolak, membuat pengendara motor dan sepeda melonjak-lonjak. Saking kasarnya. Berkelok-kelok di sepanjang gang sebagai akses masuk ke rumah warga yang tempatnya agak ke dalam. 

       Minggu pagi,

     Masih begitu pagi. Jam 3.00 dini hari. Ane mulai terjaga dari tidur berkepanjangan. Dingin. Masih dingin banget. Badan dipaksain buat beranjak. Keluar rumah. Blaaank. Sepi. Kagak ada apa-apa. Tapi di atas sana yang paling rame. Dan ga bisa ditemuin di Jakarta pemandangan rame itu. Langit. Langit dini hari. Langit paling bersih daripada waktu-waktu yang lain. Paling terang diantara jam-jam lain. Paling indah, dah. Segaris langit terang, dengan jutaan, atau bahkan milyaran gemerlapan di dalamnya. Memanjang dari utara ke selatan. Sabuk galaksi bimasakti-kah itu? Mungkin saja iya, ane ga faham. Yang penting nikmat buat dilihat. Yang ane tahu mah, nikmat Tuhan paling indah di saat-saat seperti itu. Yakin deh. Langit aja sampai dibuka-buka. Diterang-terangin. Diperlihatkan dengan sebegitu mempesonanya. Bumi yang mati pun mungkin juga terpesona melihat atapnya yang hidup. Hidup bersama do'a-do'a dan munajat para muslim-muslimah.


       Minggu pagi,

     Masih saja pagi. Jam 04.30 menjelang fajar. Para muadzin mengumandangkan adzan subuh. Mencoba membangunkan warga-warga yang sedang nikmat dalam peraduannya. Suara-suara tua nan ringkih itu begitu semangat menggerakkan membran-membran speaker langgar yang juga saudah tua. Serak memecah pagi nan dingin juga mati. Kemudian mereka sambung panggilan sholat itu dengan pujian-pujian arab penuh penghayatan. Makin lama makin kecil suaranya. Kian habis suaranya. Dan suara terakhir adalah ketika mengucap iqamat. Iya, benar-benar suara terakhir. Satu tarikan nafas panjang sampai 2/3 iqamah, kemudan  mereka sambung dengan nafas kedua untuk menegaskan lafadz





     "qad qāma tis-salaat...qad qāma tis-salaat...     āllahu ākbar, āllahu ākbar...lā ilaha illā-llah..."


Tuntas sudah tugas mereka pagi itu. Hasilnya?? hanya segelintir saja. Benar-benar segelintir. Jari-jemari pun bakal malu kalau dibuat ngitung jamaah subuhnya. Hmm. Ironi memang. Yang lebih ironi dan memalukan adalah langgar depan rumah ane. Entah sudah berapa subuh dia tetap saja gelap gulita. Semenjak imam langgar itu menghadap ke haribaan-Nya waktu ane masih STM dulu, syiar Islam di RT ane khususnya menjadi kian menurun. Benar benar turun. Tidak ada yang meneruskan tugasnya. Lampu nya cuma hidup cuma dari Magrib-Isya untuk sholat berjamaah segelintir orang juga. Imamnya pun sudah begitu tua. Para warga lebih nyaman untuk sholat di rumah masing-masing. Yang muda-muda? Langgar itu sudah hampir mati. Sudah tidak ada yang mengaji lagi setiap Magrib sampai Isya. Sudah tidak ada lagi checklist sholat lima waktu bagi anak-anak kecil yag akan mengaji. Sudah tidak ada lagi cerita Si Kancil dari Bapak Parni setiah hari Kamis. Iya, saya ingat setiap Kamis dia mengisahkan banyak cerita. Ironi. Menyayat hati. Benar-benar ironi. Yang dulunya mengajar mengaji kini sudah memiliki anak dan istri mereka. Yang dulu diajar sudah pada pergi ke negeri orang. Termasuk saya. Hanya 5 orang pemuda generasi ane. Semuanya pergi ke perantauan. Ironi, sungguh ironi. Yang sudah punya istri sudah tak ke langgar lagi. Yang masih kecil-kecil tak ada yangg mengajak ke langgar lagi.



       Minggu pagi,

     Engkau masih saja pagi. Ironimu menyayat hati. Sungguh-sungguh sakit. Akankah aku bisa kembali ke tempat ini? Mengajak mereka untuk menghidupkan langgar ini lagi?





....................................................





Riak-riak Rasa itu...
(...to be continued)
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top