dan nikmati setiap prosesnya.

Saturday, December 14, 2013

[ Day 5 : Nostalgia... Masih Jalan yang Sama ]

Penat menyusur urat tulang belakang di ujung gerbong Kereta Pasundan di penghujung bulan ramadhan saat itu. Saat aku berpulang ke kampung halaman meninggalkan kota Kembang. Tempat transit kepulangan dari rumah kos sekamar kecil di Jakarta. Cukup senyum aneh adek kecil di pelukan ibunya jadi penyemarak malam hingga pagi, matahari terindah merekah di langit kota kecil tempatku bersekolah dulu. Yang dulu ketika pagi kujelang dengan sepundak tas hitam mengendarai motor berboncengan, setelah beberapa masa sebelumnya berdesak-desakan ria di bus omprengan "Sri Mulyo Agung" menyusur jalan.


Tak ingin kehilangan momen-momen itu aku pun menapaki tilas perjalanan semasa STM di Kota Madiun ini dengan ngeteng sampai rumah. Menolak tawaran jemputan sepeda motor Bapak yang begitu antusias menyambutku pulang. Hari itu aku memilih becak tua yang dikayuh Bapak Tua dari daerah Nglames. Mengantarku dari stasiun menuju Terminal Purbaya di seberang PG Redjo Agung. Pelan dan perlahan.


Selanjutnya yang kutunggu sudah menungguku lama di bawah tenda tinggi menutupi mobil kotak bercat merah yang sudah bolong sana sini, juga memudah menjadi coklat. Sri Mulyo Agung, mengantarkan ku kembali memutari kota dari jalan Thamrin lurus mencapai perempatan Te'an. Kemudian berbelok ke kanan hingga terlihat Pasar Sleko yang masih saja ramai. Berikutnya kuburan china yang masih saja bau dan jalanan yang tetap berkelok-kelok. Pak Supir dengan sebatang rokoknya di mulutnya lihai memutar roda kemudi sembari kedua kakinya bergantian memainkan pedal. Sedangkan si kondektur yang tak asing itu berdiri di pintu sembari melambaikan tangannya keluar. Mengepak-kepakkna beberapa lembaran uang kertas hasil tarikan penumpang pagi itu.


Sebenarnya aku ingin melihat bunga trembesi di sepanjang lapangan terbang  Iswahyudi yang mekar merah dan sebagian yang lain gugur memenuhi jalanan terapu ban bus-bus besar. Yeaaah. Belum musimnya mungkin. Pohon-pohon trembesi itu hanya tinggal dahan dan rantingnya yang menua degan sedikit daun-daun hujau. Hari pun semakin panas membuatya semakin terbakar. Dan aku terlelap tidur di kursi paling depan memimpikan 4-6 tahun yang lalu aku menempuh jalan yang sama.

Dengan tempo yang sama pula pasti aku terbangun di jalanan rusak dari perempatan Sukomoro. Jalan terjal mengarah ke utara itu pasti membangunkan tidur pulasku setelah hampir 1 jam berada di dalam bus meninggalkan Madiun menaruhku kembali ke Magetan. Dengan pandangan sedikit sayu, kulemparkan sejauh pandangan ke sisi kanan menatap sawah yang masih menunas hijau. Dan pohon jati yang masih enggan merimbun lebat. 

Hingga belokan terakhir benar benar menyadarkan kembali aku dari setengah tidur, kemudian sempoyongan berdiri menatap ujung belokan hingga kembali menginjakkan kaki di tanah rumah. 

Aku merenggangkan tangan ke atas tinggi tinggi. Menyapa segenap cerita nostalgia dulu dan sehembusan angin yang menyapa ku ramah. Kupejamkan mata sekali lagi.

Dan aku pulang............
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top