dan nikmati setiap prosesnya.

Monday, February 04, 2013

[ Book: Agar Bidadari Cemburu Padamu ]

30 January 2013, Book Note
Setangkai Cendera Hati...



(Allah Sayang Padaku)
“DI lautan nikmat
Dua makhluq berpisah
Yang satu tenggelam dan yang lain menyelam
Kau tahu apa bedanya?”
Berenang dan Menyelam di Lautan Kasih Sayang
Tentang nikmat …
Ibarat dunia itu lautan, manusia berada pada dua pilihan untuk menjalaninya. Pertama menjalani tanpa ilmu sehingga hanya berjalan biasa saja, bahkan bisa terjerumus/tenggelam. Yang kedua menjalani kehidupan yang penuh nikmat ini dengan ilmu. Ilmu Islam. Menikmati semua nikmat yang ada seraya bersyukur kepada Allah Sang Maha Pencipta. Subhanallah.
Tentang Wanita …
Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannyadalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak,
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tagan untuk dilindungi.
Tentang Pembebasan …
Islam mengangkat derajat wanita dari zaman kejahiliyahan dan menghapus kedzaliman yang diperlakukan kepadanya  (An Nahl 58-59, At Takwir 1-9), sehingga mendapatkan tempat tersendiri dalam masayarakat dengan ketetapan-ketetapan yang diatur oleh Islam (An Nisa’ 19, 32). Agar wanita bisa dihargai, disayangi dan mendaptkan kesetaraan nikmat dalam hidup beragama.
Sayang Padaku, Sayang Semuanya
Tentang Kepemimpinan …
 “…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya” (Al Baqarah 228)
Dalam kehidupan rumah tangga, pemimpin adalah suami/laki laki. Dan antara keduanya memiliki hak-hak dan kewajiban / taggung jawab (kepemimpinan) masing masing yang akan dipertanggung jawabkan langsung kepada Allah (An Nisa’ 34).
Kepemimpinan suami adalah nafkah keluarga. Sedang kepemimpinan perempuan adalah menjaga diri dan keluarga saat suami tidak ada. Sungguh hubungan yang indah.

Tentang Waris …
Adil ≠ Sama
‘‘Allah mensyariatkan bagi kalian untuk anak-anak kalian. Yaitu bahagian anak laki-laki sama dengan bahagian dua orag anak perempuan…” (An Nisa’ 11)
                Laki-laki wajib membayar mahar, wajib memberi nafkah, wajib membayar tebusan dan denda untuk menjamin keselamatan keluarga, wajib member nafkah family dan keluarga besar.
Sedang wanita?? Tidak.


Tentang Akal dan Agama …
“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari golongan laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi bisa mengingatkannya” (Al Baqarah 282)
                Bukan maksud mencela wanita, tapi kekurangan dalam hal ini meunjukkan kekurangan kuantitas/jumlah diri dalam beribadah. Ini merupakan kodrat yang Allah sudah tetapkan. Yaitu dalam ibadah sholat dan puasa. Jika sedang haid, hamil, menyusui, dll, wanita mendapatkan keringanan dalam hal beribadah. Tapi dari segi kualitas, agama tidak mempermasalahkan, bahkan wanita bisa lebih baih dari laki-laki.
               
Tentang Kesetaraan …
                Laki-laki dikaruniai sifat dominan, keras, kuat namun lambat merespon dan banyak berfikir. Karena itu merupakan bekal dalam menjaga rumah tangga. Sedangkan wanita sebaliknya, penuh kelembutan, penyeyang, cepat merespon dengan kepekaan perasaan. Dua-duanya saling melengkapi dalam tugas, posisi dan fungsi dalam keluarga. Itulah kesetaraan dengan saling mengenal, memahami dan mengerti satu sama lain.
Bidadari dan Kita; Mahakarya
Al Imam Ath Thabarani meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Ya Rasulallah, manakah yang lebih utama, wanita di dunia ataukah bidadari yang ermata jeli?”
Rasulallah menjawab, “ Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti apa yang Nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Dia bertanya lagi, “ Mengapa wanita wanita dunia lebih utama daripada biadari?’’
Beliau menjawab, Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkn cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kai sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas”
(Yang Tak Di Tebar Takkan Pernah Pudar)
Dan Kau pun Semakin Mempesona
Jadilah mempesona …
Memakai pakaian taqwa terbaik : Pakaian yang menutup aurat. Jilbab yang syar’i. (Al Ahzab 59)
(menutup aurat ≠ membungkus aurat)
Syarat-syarat pakaian yang syar’I bagi muslimah menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin ibn Nuh Al Albani :
1.       Menutup dan Melidnungi Seluruh tubuh, Selain yang Dikecualikan
2.       Bukan Tabarruj (menor, berlebihan)
3.       Kainnya Tebal
4.       Kainnya Longgar, Tidak Sempit, Tidak Jatuh
5.       Tidak Diberi Wangi Haruman
6.       Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
7.       Tidak Menyerupai Pakaian Orang Kafir
8.       Bukan Merupakan Libasusy Syuhrah (mencolok, ketenaran, popularitas)
Cadar : innahu sunnatun wa mustahabbun (ia adalah sunnah lagi disukai).
Memakai jilbab bukan berarti menjadi diri orang lain kebanyakan. Tapi jadikan jilbab sebagai ‘celupan warna dari Allah’ (Al Baqarah 138). Tetap menjadi wanita sesuai diri dan karakter masing-masing, tapi bingkailah dengan jilbab untuk menjagamu dalam kemuliaan di mana pun  dan kapan pun.
Pesona di Atas Pesona …
Kutanamkan di dalamnya mutiara lalu kubiarkan
Bersinar tanpa mentari dan berjalan tanpa rembulan
Kedua matanya adalah sihir dan keningnya laksana pedang India
Milik Allah-lah bulu mata, leher, dan kulit yag dicelup merah (‘Aidh Al Qarni)
Antara muslimah dan bidadari,
Satu : Mata yang Jelita  → menundukkan dan menjaga pandangan
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah merekan menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa Nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya… “
(An Nur 32)
Ayat Lain : Ar Rahman 56, Ash Shaffat 48
Dua : Kulit dan Selulit → Aurat yang terbuka tidak akan memancarkan pesona
“Sungguh, jika kepala salah seorang dari kalian dicerca dengan jarum besi menyala, adalah masih lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tiada halal baginya”
(HR Ath Thabarani dan Al Baihaqi)
Tiga : Jangan Merdu-merdu Sendu → Perkataan tegas, jelas, tidak dibuat-buat
“…Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang ada penyakit di dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf” (Al Ahzab 32)
Ayat Lain : An Nisa’ 144
Empat : Cari Perhatian? Pada Allah Saja!
“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-oramg jahiliyah dahulu…”
(Al Ahzab 33)
“…Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…” ( An Nuur 31)
Lima : Pemalu
“Sesungguhnya di antara kalimat kenabian yang mula-mula adalah : Jika kamu sudah tak lagi memiliki rasa malu, lakukan apa saja yang kamu mau!”
(HR Al Bukhairi)


(Cintailah Cinta)
Cinta,
Ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, ceria …
Cinta,
Luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih dan badai …
Sulitkah mencintainya?
Riak Riak Rasa
Hubungan Pertemanan : Riak rasa → ketertarikan → ketertarikan dalam dimensi kepribadian → penyataan → kedekatan → ketergantungan.
Ketargantungan ini bersifat merusak karena membagi masalah pribadi bukan pada tempatnya, bukan pada orang yang tepat, karena hanya sebatas teman. Fungsi keluarga, orang tua diabaikan dalam komunikasi. Ekstrimnya, lebih mempercayai orang lain melebihi orang tua/keluarga sendiri
Nasihat Ibnu Mas’ud : ‘’Jika kau tertarik pada seseorang, ingatlah kejelekan-kejelekannya!”. Sabda Rasulullah, “Cintailah sesuatu sewajarnya, karena mungkin suatu ketika ia akan menjadi sesuatu yang kau benci. Dan sederhanalah dalam membenci, karena suatu saat  mungkin ia menjadi sesuatu yang kau cinta.”
Di Kelas-Kelas Cinta
Satu ; Cinta Allah : Jangan Bersedih!
Cinta tertinggi
(At Taubah 40; Al Hadid 4,23 ; Yusuf 86; Qaaf 16)
Dua ; Cinta Akhirat : Cinta Abadi pada yang Kekal di Sisi-Nya
                Sadaqah dan infaq di jalan Allah. Jangan mementingkan materi dunia. Gunakan materi
                dunia untuk membeli akhirat melalui sedekah.
                (Al Baqarah 261; Al Ahzab 28-29; Al Kahfi 45)
Tiga ; Cinta Rasulallah : Mahaguru Cinta Sepanjang Masa
Empat ; Iman, Hijrah, Jihad : Di Mana Cinta Adalah Warna
                “…Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah
 di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan dan kdurhakaan…” (Al Hujuraat 7)
Ayat Lain : Al Anfal 26; Al Hasyr 8-9; At Taubah 100
Cerita cinta ini dapat dilihat dalam kisah hijrahnya Nabi ke Madinah (antara kaum Muhajirin dan Anshar)
Lima ; Ayah dan Bunda : Di Mana Muasal Kita DIpandu Oleh Cinta
                “…Dan persahabatilah mereka di dunia dengan baik…” (Luqman 14-15)
Ayat Lain : Al Isra’ 23-24
Cinta kepada Ayah Bunda adalah seumur hidup manusia. Syair kepada ayah bunda :
Dan nafas cintanya meniup kuncupku
                Maka ia mekar jadi bunga (Muhammad Iqbal)
Enam ; Cinta Semusim : Mulia Bersama Pengelolaan
                Cinta kepada sesama, sementara, setengah hidup manusia
Rabbi, bila ku jatuh hati
Ku ingin terbang cepat
Hingga syaithan tak sanggup hinggap


Jika Kau Cinta, Ikuti Dia
“Katakan hai Muhammad: Jika adalah kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kalian dan Ia ampinu segala dosa kalian. Dan Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imron 31)
Cinta adalah menjadikan Rasulallah sebagai suri tauladan. Menyertai dalam perilaku keseharian, membersamainya dalam akhlaq, mengikutinya dalam tindak, dan meneladaninya dalam jejak.
Muslimah : Memerdekakan Syar’i …
                Isteri-isteri Nabi dan muslimah pada umunya memiliki ketentuan yang berbeda dalam kehidupan dimana, isteri nabi tidak diperkenankan meninggalkan rumah (A Ahzab 32-33).
Jilbab & Hijab :
Jilbab (Al Ahzab 59) :wajib untuk semua muslimah
Hijab (Al Ahzab 53) : wajib untuk orang yang ingin bertemu dengan isteri Nabi, tidak wajib untuk muslimah selain isteri Nabi, tetapi dianjurkan dipakai saat melakuakan pembicaraan di dalam rumah.
Jika di luar tidak perlu. Sehingga muslimah mempunya kesempatan mengembangkan produktivitas dan sumbangsihnya untuk kepentingan umat tanpa meninggalkan syari’at. Jihad.
(Namun, Pernikahan Begitu Indah Kudengar)
“Tiada terlihat, bagi dua orang yang saling mencitai…
Yang seperti pernikahan”
Dan Nikahkanlah …
Mungkin bab inilah intisari dari buku ini. Membahas ‘nikah’. Banyak cerita yang tidak bisa saya tuliskan dalam ringkasan ini. Alangkah indah jika dibaca sendiri kisah-kisah dan riwayat tentang pernikahan di zaman Nabi.
Tentang Nikah …
1.       Nikah adalah ibadah yang merupakan separuh agama
“Jika seorang hamba menihkah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah bertaqwa kepada Allah ada setengeh yang lainnya”
(HR Al Hakim dan Ath Thabarani dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata : hasan)
2.       Nikah merupakan wujud perlindungan dan penjagaan terhadap wanita (An Nisa 3)
3.       NIkah merupakan wujud perlindungan kepada pemuda-pemudi (An Nuur 32-33)
4.       Wanita yang sudah baligh sudah diperbolehkan menikah.
“Barang siapa memiliki anak perempuan yang telah mencapai usia du belas tahun (usia baligh), kemudian tidak bersegera menikahkannya, maka jika anak perempuan itu melakukan suatu perbuatan dosa, dosanya akan ditanggung oleh sang ayah”
(HR Al Baihaqi, dari Anas ibn Malik)
5.       Kalau mau memulih, ‘menawarkanlah’ diri pada laki-laki yang pasti. (Agama dan akhlaqnya). Wanita yang baik memilih pembimbing kehidupannya. (Al Ahzab 50)
6.       Pacaran??
Jawaban wanita muslimah, “Boleh aja kita pacaran. Tapi kamu lamar aku dulu ke ayahku, terus kita nikah deh. Nha, habis itu baru, pacaran ni’mat sesuai syari’at”


Tahapan/pertimbangan Pernikahan …
1.       Mengukur kualitas diri
Melihat kepribadian diri sendiri, modal ilmu dan keyakinan.
2.       Mempersiapkan kualitas diri (iatiqamah, keteguhan, dll)
Kesiapan untuk terus belajar dan selalu membersamai orang shaleh
3.       TA’ARUF, bukan pacaran
Mengenali calon pasangan kita, dari kepribadian hingga keluarga.
4.       Uji kualitas dirinya
Tanyakan motivasi menikah
5.       Siap mengatakan “IYA” atau “TIDAK”
“…Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan lai-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik…” (An Nur 26)
Ayat lain : Al Baqarah 221; Al Imran 118-119
Kalau Ada Saat Menanti, Pastikan Allah Membersamai …
Percayalah janji Tuha yang pasti ini:
“Dan bahwasanya,  Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan…, laki-laki dan perempuan.”
(An Najm 45)
Setiap manusia pasti punya jodohnya masing-masing, jika tidal dipertemuka di dunia, masih ada akhirat. Yakinlah!! Kalau yang fana tak menyatukan yang abadi mempertemukan.
“Menikah, bagi mereka semata karena keinginan untuk menyempurnakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai baagian dari tarbiyah yang mereka jalani. Tetapi, mungkin Allah memberi media tarbiyah yang lain untuk mereka. Saya kira, penantian pun menjadi bagian dari tarbiyah. Allah menguji kualitas iman mereka. Toh, kepasrahan akan berakhir dengan kebahagiaan meski tak dinikmatinya di dunia” (Kusmarwanti : Cacatan Seorang Ukhti)
 Berkunjung ke Rumah-rumah Cinta
Jika pada bab sebelumnya (Dan Nikahkanlah) bisa disebut bab inti, maka ‘rumah-rumah Cinta’ ini adalah bagian termanis dalam buku ini. Sungguh tak kan manis jika kuringkas.
Nikmati manisnya, baca setiap riwayat dan ceritanya …
Sebuah suguhan cerita yang benar-benar menggugah. Tentang keagungan wanita/isteri di sisi suami, di tengah keluarga. Bagaimana doa seorang Aisyah yang beriman istri Fir’aun, kecerdasan iman seorang Ummu Isma’il kepada Ibrahim, dan juga kehidupan rumah tangga Rasulallah. Sungguhlah menjadi contoh bagaimana Rasullullah mengukir prestasi bersama pendamping luar biasa, Khadijah dan mendapat cinta yang luar biasa dari Aisyah.
“ …Ia beriman padaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manuasi menahan harta mereka…”
(HR Ahmad) Khadijah, Radhiyallahu ‘Anha…
Selami pula kisah-kisah perempuan yang luar biasa lain, sebagai isteri, dalam Bab 9 buku ini. Menggugah!!!
IBU…!
Bagian terbaik dari buku ini …
Untuk kalian, para wanita, calon ibu
Sadarlah “…surga berada di bawah telapak kakimu”
Sebegitu mulianya engkau
Ridho Allah adalah ridhomu
Amin….!
 dari buku :
Judul              : Agar Bidadari Cemburu Padamu

Penulis           : Salim Akhukum Fillah

Penerbit         : Pro-U Media
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top