dan nikmati setiap prosesnya.

Monday, April 21, 2014

[ Cinta Sepanjang Jalan ]

Sosok wanita paruh baya itu berjalan pelan, tampak dari kejauhan. Berulang-ulang kali tangan kanannya ditangkupkan di atas pelipis matanya, menahan sengat matahari sore yang menyisakan hangat siang. Apalagi jalan sepanjang Pondok Cabe yang begitu lapang di sisi baratnya, oleh landasan kecil pesawat terbang milik Angkatan Udara. Membuat keringatnya bercucuran menembus jilbab hitamnya yang agak kusam, oleh debu jalanan. Karena hanya ia seorang yang berjalan kaki, sedang di kanannya mobil dan motor bersalipan memenuhi jalan. Tak urung, sesekali disekanya keringat yang melumcur deras di pipinya oleh tangan kiri yang sedang menenteng plastik kresek hitam.

Kian lama makin mendekat. Di tempatku duduk mengamatinya.

Seperti biasa, dulu setelah jam 4 sore aku berlama-lama duduk di warung kecil milik Mas Khoirin setelah pulang magang. Tempatnya tepat di samping gerbang tempatku magang, di pinggir Jalan Besar Pondok Cabe sangat cocok untuk sekedar menghabiskan waktu sore sembari memandang mentari mengatupkan sinarnya. Membicarakan banyak hal dengan mas Khoirin dan adik iparnya yang masih SD, Dek Tri yang polos nan manja.
Di sela pertanyaan Dek Tri yang selalu bertubi-tubi padaku, wanita itu tepat melintas melewati dipan yang kududuki. Umurnya sepertinya tak jauh beda dengan ibuku yang di rumah, di angka 40an atau bahkan lebih.

Seketika itu pula kutanyakan padanya dengan penasaran,
"Mari buu, selamat sore?".
Dia pun menolehkan muka dan menjawab pelan, "Iyaaa".
"Mau kemana bu?" Tanyaku yang masih penasaran.
"Ke Sawangan mas"
"Oooo....kok jalan kaki bu?" Aku semakin penasaran.
"Iya mas, saya udah jalan kaki dari Bintaro"
"Haaaaaah" Seketika aku terkejut.
"Bintaro???Kok jauh amat ya Bu?" Aku tak percaya
"Iya mas, saya pengen ke tempat anak saya di Sawangan"

Tanpa berfikir panjang aku bergegas merapikan buku catatanku yang sedari tadi dicoret-coret Dek Tri, mengalungkan tas dan menuju motor yang parkir di samping dipan. "Mari bu saya antar"

Dia sedikit kaget, "Ga pa pa itu mas? Jadi ngrepotin"
"Udah ga pa apa kok. Tapi ntar ibu tunjukin jalannya ya?? Saya belum pernah ke Sawangan. Hehehe"

Dan kami pun beranjak. Meninggalkan Mas Khoirin dan Dek Tri, juga mentari yang kian menipis.

Dengan masih kaget. Tak bisa kubayangkan seorang wanita paruh baya berjalan kaki sepanjang itu. Entah mungkin sudah 10 kilometer lebih dia berjalan dari setelah Zhuhur tadi.

Diceritakan olehnya anaknya yang termuda di rumahnya yang beranjak dewasa namun susah diatur, sedang sang bapak yang sedang sakit. Akhirnya di titik sulit itu dipilihnya mengunjungi anak tertuanya yang sudah berkeluarga di Sawangan dengan segala keterbatasan yg dimilikinya. Mungkin juga dengan kenekatan. Ah, itu bukan urusanku. Terlalu banyak yang memutar di otakku. Apalagi jalan yang kutempuh saat ini sama sekali belum pernah kulewati.

Entah sudah berapa jauh kami berjalan, entah sudah berapa hal yang kita bicarakan. Semua masih tertahan di benakku, kok bisa ya?? Ini jalan udah jauh banget. Akhirnya kita berhenti di salah satu masjid. Hari sudah gelap. Dan aku pun belum tahu dimana itu daerah Sawangan.
Selepas magrib kami berjalan kembali. Ini benar-benar gelap. Setelah berjalan sejurus lurus kami bertemu pertigaan yang agak ramai kemudian berbelok kiri. Dari situ jalanan semakin sepi. Tak ada rumah, kanan kiri hanya ladang tebu yang gelap. Diselang selang oleh ladang dan tanaman padi. Panjang, itu benar benar jauh. Hingga sampailah kami di satu perempatan dengan bundaran kecil. Dari situ, barulah kami masuk di sebuah komplek perumahan yang belum setengah jadi.

Jalan yang masih bolong di sana-sini serta tanah yang masih kosong di kanan kiri. Tak jauh beda dengan jalan di kampungku menuju kuburan. Lampu penerangan pun hanya berpendar dari motor yang kami kendarai. Juga oleh satu dua motor lain yang berpapasan dengan kami. Hingga akhirnya kami masuk di sebuah jalan selebar satu mobil dan mulai terlihatlah beberapa rumah. Kami menyusur jalan berbatu kerikil melewati komplek perumahan sepi menuju jalan yang paling ujung.

Tepat sebelum isya. Dan akhirnya kita pun sampai.

Dengan harap cemas diketoknya gerbang rumah anak perempuan tertuanya. Tak ada jawaban pun. Dari sorot matanya yang sayu terlihat sedikit rasa ragu, dan takut. Mungkin takut mengganggu. Diulanginya dengan memanggil nama cucunya, ah aku lupa nama mereka. Dan sahutan kecil itu pun melengking dari dalam rumah

"Mamaa, nenek dateng nii"
Ah, akhirnya...
.................

Di sepanjang jalan pulang aku terus berfikir. Di setiap jengkal aspal yang kupacu dengan motor tua ku ini aku termenung.

Jika dia meneruskan berjalan kaki dari Lapangan Terbang Pondok Cabe hingga rumah cucunya itu, berarti akan berjalan sejauh Bintaro hingga warung Mas Khoirin, kurang lebihnya.
Aku kembali bertanya pada diriku. Kok bisa ya??
Hingga akhirnya di salah satu stasiun televisi, Dik Doang (artis dan komedian) berpendapat soal cinta. Cinta itu bukan berharap. Tapi cinta itu menimbulkan harapan. Kembali aku teringat sang Ibu.

Yah, walau tak sepenuhnya sama dengan sang Ibu itu rasakan. Mungkin ada harapan di tempat anak tertuanya untuk sang bapak yang sedang sakit, untuk anak termudanya yang `menyakitkan` hati.

Dan baginya ia tak sepatutnya ia duduk diam penuh harapan, tapi dijemputnya harapan itu. Meskipun dengan segala keterbatasan.

Cinta, yang menimbulkan harapan. Akan ketenangan fikiran dari segala permasalahan hidup, justru harus diusahakan dan diupayakan. Tentunya dengan penuh kesabaran dan kesyukuran. Seperti pesan Umar bin Khattab. ra, "Jadikanlah sabar dan syukur sebagai tunggangan bagi kalian".

Cinta, yang menyembulkan harapan. Oleh sang Ibu diungkapkan dengan indahnya melalui ikhtiar yang sungguh luar biasa. Di dalam diamnya. Di bulir keringatnya. Di atas derap langkah kakinya, yang menggetarkan tiang-tiang surga.
Itulah cinta, di sepanjang jalan...


Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top