dan nikmati setiap prosesnya.

Sunday, August 30, 2015

[ 2:155 ]

Aku tidak bisa bohong kalau sebenarnya sangat merindukan Istiqlal.

Terakhir berkunjung adalah tepat setahun yang lalu. Ya, 31 Agustus 2014. Saat salah satu sahabat karib sedikit 'memaksaku' untuk ikut dalam satu kajian umum yang diisi seorang Syaikh dari Arab, Syaikh Abdurrahman Al Badr (dalam coretan bukuku) dengan bahasan seputar Riyadhus Shalihin yang masyhur itu.

Satu yang membuat aku begitu bersemangat menebas panas matahari, sendiri, sepanjang puluhan kilometer dari Karawang adalah karena ia akan mengenalkanku pada istrinya yang baru ia nikahi sebulan sebelumnya. Dan mengucapkan do'a pernikahan untuknya secara langsung. "Barakallahu laka, Akhi..."

Seba'da dhuhur, kami bertiga duduk di pelataran Lapangan Benteng menikmati makan siang sangat sederhana buatan sang istri. Di bawah pohon rindang. Di tengah semilir angin siang. Ada bahagia yang tak mampu dicerna kata-kata dari sorot mata sahabatku. Sahabat dalam masa-masa perkuliahan dan dakwah kampus. Sahabat yang oleh kebanyakan teman dianggap "The Silencer" dalam film 3 Idiot. Sahabat yang (hingga kini) sering mengingatkanku pada As-Sunnah.
Siang itu, bolehkah aku cemburu padamu?


Ah, aku tak sabar ingin segera berkunjung dan menuntaskan rindu di Istiqlal.


Aku tidak bisa bohong kalau aku juga sangat merindukan Al Ahzar.

Perkenalanku dengannya adalah di pertengahan tahun 2012. Untuk sebuah kajian yang lain yang sudah aku lupa temanya. Itu pun aku gagal datang. Hanya beberapa kali melintas di depan pelataran Masjidnya yang cantik saat sore menjelang dan aku harus berburu waktu dengan kemacetan yang menanti di sepanjang Jalan Fatmawati.

Sampai kini, ia masih menjadi satu masjid yang ingin aku kunjungi. Ingin sekali. Hingga tibalah kabar bahwa hari ini, 30 Agustus 2015, sorang ustadz yang banyak mengispirasi dan mengubah hidupku lewat bukunya, Ustadz Salim A Fillah, akan datang dan mengisi sebuah kajian tentang pernikahan.
Salim A Fillah dan Al Ahzar. Keduanya ibarat sepasang tangan yang menjulur menanti pelukanku yang pias oleh rindu. Sudah kubaca semua bukumu, Om Salim. Terkecuali satu saja. Judulnya "Gue Never Die". Out of production, sepertinya.
Masih adakah buku itu di rumahmu, untuk suatu saat bisa kau pinjamkan?


Ah, aku juga tak sabar bertamu d Al Ahzar dan bertemu Ustadz Salim. Betapa aku ingin sekali melepas rindu dengan keduanya.

https://rinduku.wordpress.com/2012/12/04/takdir-dan-rindu/



Ahad ini, sudah terjadwal seminggu sebelumnya bahwa aku akan berkunjung di kedua tempat yang kurindukan itu. Pagi hari ke Istiqlal untuk menghadiri kegiatan ODOJ: Odoj Untuk Negeri. Kemudian ba'da dhuzur meluncur ke Al Ahzar dan bertemu Ustadz Salim.

"Pokonya harus jadi, Mas." begitu aku meyakinkan mas Yuli. Partner yang akan menemaniku berkunjung di kedua tempat itu.

Tapi, melihat kondisi psikisku yang sedang sakit beberapa hari sebelumnya: dua kali membuat reject (yang sama) di tempat kerja; 'kabar' yang mengejutkan sekaligus mengagetkan datang secara simultan; 'penantian' yang sudah berjalan 48 hari dan mengikis kesabaran; mimpi dan angan-angan yang berserakan; ah... 

Menjadikan aku seperti pohon yang limbung tanpa diterpa angin. Bagaimana mungkin rasa syukur dan galau berselang-seling hanya dalam bilangan detik. Duh.... Akhir-akhir ini aku menjadi tidak sabar-an.
Maka, aku mengurungkan niat dan membatalkan rencanaku dengan Mas Yuli, dengan berat hati. 
Afwan mas, afwan jiddan.


"Aku juga kangen SIKAP di Al Firdaus, yang teramat sederhana." alasanku diplomatis. 
(SIKAP adalah kajian yang rutin diadakan setiap hari Ahad di Masjid PDAM, Masjid Al Firdaus, Karawang. Yang mulai ku-rutinkan sejak Ramadhan kemarin.)


Akhirnya, dhuha ini aku duduk di majelis Al Firdaus yang kalah megah dibanding Istiqlal. Kalah cantik dibanding Al Azhar. Dan kalah jumlah jama'ah dibanding keduanya. 
Hanya hitungan jari tangan. 
Teramat sederhana, seperti biasanya.


Tapi tema yang dibahas hari ini, saya rasa memang sengaja Allah khususkan untuk saya. Untuk saya yang sedang dilanda krisis kesabaran. Riyadhus Shalihin, Bab III: SABAR.

Bagaimana ayat dalam redaksi 2:155 berulang-ulang dibacakan Ustadz Ismail (yang notabene mengalami tunanetra lebih dari sepuluh tahun) mengingatkan kami untuk selalu bersabar di jalan Allah.
Sungguh membuat aku terkoyak. Dan malu.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." [2:155]

Iya, "Wanaqshin minal anfus".
Betapa 'kekurangan jiwa (semangat)' ini jika dibandingkan dengan kenikmatan dunia yang sudah Allah berikan ke kita, jumlahnya sangat sedikit. 
Sedikit sekali.



Astaghfirullah.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

1 comments

  1. saya juga suka dengan tulisan tulisan ustadz Salim A fillah....semoga menjadi orang yang merindukan masjid dan mendapat keberkahan

    ReplyDelete

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top