dan nikmati setiap prosesnya.

Wednesday, January 14, 2015

[ Gelas Gelas Kaca ]

Adzan Isya' adalah dengung suara terakhir di kaki Gunung Lawu sebelah timur. Khususnya untuk wilayah desa-desa dan dukuh-dukuh tepat di bentangan bawahnya. Karena pada umumnya, kabupaten Magetan -pemangku kekuasaan di perbatasan paling barat-tengah provinsi Jawa Timur- hanya memiliki wilayah urban yang juga sepi dan selebihnya adalah daerah rural yang jauh lebih sunyi, senyap dan gelap.

Lengking nyaring suara muadzin itu menggema di sepanjang jalanan menembus dinding-dinding rumah permanen yang dingin. Kemudian berdenting di atap atap rumah berjaring laba-laba, mengusik kawanan tikus rumahan yang tak tau diri, meninabobokkan sapi, kambing, ayam, unggas dalam jerami serta mengingatkan seluruh penghuni rumah itu untuk meninggalkan sejenak hiburan paling jamak kota ini, menonton tivi.

Sesudahnya tempat ini ibarat kehilangan kehidupan. Nyawanya dicabut sementara oleh Tuhan. Yang tersisa adalah beberapa titik-titik putih kecil yang beterbaran satu-dua di setiap desa, dan menjadi berlipat-lipat jika dilihat dari langit tepat di atas kota. Seumpama kunang-kunang jantan di tengah hutan tengah malam. Memancarkan spektrum terang dari bawah badannya yang mungil untuk memanggil pasangan saat musim kawin tiba. Pasangannya tak lain tak bukan adalah jantan usia muda hingga tua yang tak betah menunggui istrinya menonton tivi yang acaranya itu itu saja. Sinetron dan drama yang membosankan. 

Adalah bangunan segi empat berlantai ubin dengan dua pintu di bangunan depan dan berukuran sama, Di tengah-tengahnya ada jendela selebar jarak dua pintu tadi. Dua pintu dan jendela besar itu selalu dibuka menghadap jalan, sehingga tampak jelas di dalam bangunan itu ada dua meja panjang. Di atasnya terjajar nampan dan piring piring jajanan kecil berharga lima ratusan. Di sampingnya, ditempatkan dipan-dipan dari kayu sepanjang ukuran meja. Di ujung meja tadi ada semacam etalase kecil berisi tumpukan rokok, mie instant, gula, obat generik dan laci uang. Di atasnya digantung mirip jemuran beraneka rasa kopi instant siap seduh. Dekat area etalase, sebuah kompor gas 3 kilogram menyala-nyala memanaskan air dalam tungku hingga uapnya mengepul. Kemudian dengan gerakan taktis namun elegan, seraong ibu-ibu setengah baya -terkadang juga bapak-bapak- menciduk air panas dalam tungku dengan gayung panjang. Mengisi gelas-gelas kaca di atas lepek kecil berisikan bubuk kopi pahit untuk disajikan kepada para lelaki kampung yang tak ingin menghabiskan awal malam di rumah. Para lelaki itu berjejal duduk mengisi dipan-dipan kayu. Terkadang, di bawah jendela besar tadi juga ditempatkan sepasang meja dan dipan kayu sepanjang lebar jendela, dan juga penuh dengan kaum Adam. Yang tak kebagian tempat, tikar-tikar digelar di teras warung kopi hingga pejantan itu duduk melingkar-lingkar. 

Dan kembali riuhlah malam oleh beberapa noktah manusia. Meneguk segelas kopi hitam. Berjam-jam. Asap dari kopi panas itu mengepul-kepul putih. Membentuk pusaran-pusaran bak sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Kemudian bergulung-gulung ke langit tinggi. bersatu dengan sabuk Bimasakti yang terpampang jelas di atap kota Magetan musim kemarau.

Asap putih itu beradu dengan hembusan nafas saat bibir pribumi berkumis tipis mereguk tegukan pertama sensasi rasa kopi. Dan melenguh puas, bebas, seakan semua beban hidup seharian sebagai petani, pekebun, peternak sapi, tukang cari rumput, kuli pasar, dan pamong desa menjadi jeda. Tertutup titik uap yang menempel di bias-bias gelas kaca.


Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

3 comments

  1. Penggambaran yang detail dan menarik... membaca ini seolah seperti ada sendiri di tempat itu dan ikut menikmati suasananya... :) (c)

    ReplyDelete

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Jeda . . .
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham | Distributed by Tech Leaps

Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top